oleh

(4) TUNA: Silahkan TANGKAP Siapa yang SALAH

KOOPERATIF: Pembantu Rektor IV Unima Rony Tuna memberikan penjelasan kepada mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di Auditorium Unima, (13/7/2017) silam.

SEBELUMNYA, Rony Tuna mengakui, hasil investigasi tim internal Unima, ada sekitar 5.600 jaket almamater yang diduga memang tidak disalurkan kepada mahasiswa yang berhak atas itu. Dugaan korupsi jas almamater ini bahkan disinyalir sudah berlangsung sejak tahun 2007. Namun sayangnya tidak pernah diproses hukum.

“Kami prihatin dengan apa yang dialami adik-adik mahasiswa. Ternyata persoalan jaket ini dimulai sejak tahun 2008. Disinyalir tahun 2007 tidak diadakan pengadaan jaket. Kemudian pada 2008 diadakan proyek pengadaan dan diserahkan kepada adik mahasiswa 2007. Waktu itu ada sekitar 1.500 jaket. Ini kemudian berlangsung terus sampai 2009 yang diadakan untuk 2008,” beber Tuna kepada para mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di Auditorium Unima, (13/7/2017) silam.

“Tim internal Unima dapatkan, dari 1.500 jaket kemudian bertambah sampai sekitar 5.600 lebih jaket yang tidak tahu ke mana. Ini dipupuk dari tahun 2008 sampai 2015 yang jumlahnya meningkat menjadi 5.600 lebih. Setelah diteliti memang ada persoalan,” aku Tuna.

BERITA TERKAIT:

Periode kepemimpinan Rektor Prof Dr Julyeta Paula Runtuwene MS DEA, kata dosen Jurusan Bahasa Inggris ini, hendak ingin memutus rantai korupsi yang sudah berlangsung sejak tahun 2007 itu. ‘Dosa’ masa lalu ini bersedia ditanggulangi pihak rektorat saat ini.

“Bagaimana rektor sekarang menanggulangi persoalan itu, adalah tahun 2017 ini kita mengadakan 4.000 jaket, tetapi diminta untuk diadakan 6.000 agar supaya boleh menutupi yang 5.600 itu,” jelas Tuna.

Akan tetapi, dengan kebijakan itu, bukan berarti persoalan dugaan pencolengan almamater kemudian selesai. Dirinya mendorong mahasiswa untuk melaporkan dugaan korupsi ini ke aparat hukum.

“Kalau seandainya adik-adik menilai ada indikasi pidana, silahkan lapor kepada pihak yang berwajib. Dengan begitu akan diketahui siapa yang bersalah. Manajemen sekarang siap dipanggil polisi kalau ternyata benar persoalan ini dari 2007,” terang Rony Tuna.

Pihak rektorat, kata Tuna, sangat prihatin dengan apa yang terjadi. Namun itu bukan kesalahan manajemen saat ini. “Ini tidak wajar. Siapa yang salah, silahkan tangkap. Adik-adik boleh lapor polisi. Itu yang menjadi kebijakan dari pimpinan Unima. Sekali lagi itu bukan kesalahan manajemen sekarang, itu berlangsung sejak 2007 dan terus menumpuk. Kalau adik-adik lapor ke pihak berwajib, silahkan lapor polisi dan saya siap diperiksa,” katanya.(rl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed