oleh

Keluarga Histeris, Jein: Itu Bukan Shela, Tidak, Tidak, Tidak !!!

-MANADO-481 views
RUMAH DUKA: Tampak Shela yang sudah terbaring kaku tak bernyawa ketika berada di rumah duka, komples Rutan Malendeng. (ist)

MANADO- Tatapan kosong, ngelamun ditunjukan kedua orang tua korban (Ayanya bernama Clinton G dan Ibu Jein-, red), Marshela Gumansalangi (5). Terlihat kondisi yang tak begitu baik, akibat terjatuh disungai seakan tak dirasakan.

Waktu menunjukan pukul 16:45 Wita. Keramaian terjadi. Semua masyarakat yang ada bergegas. Teriakan, menggema, mendengar suara sirene mobil jenazah.

“Awasssssssss,”teriak salah satu warga. Memberi isyarat kendaraan berwarna putih dengan lampu sirene akan di parkir dikediaman Gumansalangi- Soputan yang merupakan rumah dari Opa dan Oma di Kompleks Rutan Malendeng, Kelurahan Malendeng, Lingkungan I, Kecamatan Pall II.

“Petinya jangan banyak digoyang,” ucap salah satu petugas yang mengangkat jenazah korban yang hanyut di Sungai Sawangan akibat longsor kemarin.

Perlahan-lahan dibawah masuk ke rumah. Sesak, panas terasah diruang tamu yang penuhi puluhan orang. Meja dan kursi diatur untuk melepas peti jenazah. Tiba-tiba, sekumpulan orang kembali histeris. Lautan kesedihan terjadi di moment tersebut.

“Shela, ini opa bangun. Shela,” kata Sony yang merupakan opa korban. Sambil mengeluarkan air mata, dengan suara yang tertatih.

Wajah cantik, tersenyum, seperti “malaikat kecil” tampak menghiasi wajah Shela. Apalagi anak tersebut dipakaikan gaun, yang telah dipersiapkan keluarga. Orang yang berada disekitar pun ikut terbawah dengan keadaan yang menjadi “lautan” kesedihan.

Pretttttt, bunyi kamera di mana-mana. Wartawan pun tak ketingalan mengambil moment yang ditunjukan keluarga.

“Itu bukan Shela. Tidak, tidak, tidak,” ungkap Jein, yang merupakan ibu korban.
Dimana Kata tersebut dikeluarkan karena keluarga merasa terpukul dengan keadaan ini.

“Clinton, mana Shela punya loyor taruh di situ (Clinton mana Seyla punya kain letakan didalam peti,red),” ucap Jein kepada suaminya. Ternyata sosok anak yang polos ini, sering ke mana-mana membawah kain. Dan itu merupakan kebiasaan korban.

Tak kuasa melihat kondisi tersebut, tak putus-putus gelingan air mata terus terjadi. Seakan keluarga tak percaya bahwa ini akan terjadi. Apalagi sebelum terjadi musibah tersebut, korban menghadiri pohon terang anak sekolah minggu Jemaat GMIM Betania Malendeng. Sehingga korban pulang bersama dengan ayah dan ibunya dan diterpah longsor, sehingga jatuh ke sungai.

“Shelaa, bangun. Sebentar lagi akan sekolah,” tambah ibunya, yang sudah terduduk lemas bersama dengan ayah korban.

Sementara itu, keluarga korban mengucapkan banyak terima kasih kepada semua unsur yang sudah terlibat dalam pencarian korban selama ini.

“Kami mengucapkan terima kasih. Atas perhatian pemerintah terkait dan seluruh elemen masyarakat yang sudah ikut mencari korban,” pungkas Adri yang merupakan kerabat keluarga. (yrl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed