oleh

Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos Menggnakan Komposter Pada Siswa SMP Negeri 3 Kawangkoan dan Siswa SMP Negeri 3 Tompaso

Sri Seprianto Maddusa, SKM M Kes (Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi)

Salah satu cara untuk mengurangi beban TPA akibat tumpukan sampah yaitu dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos. Potensi pembuatan kompos dari bahan organik di Indonesia mencapai 71% (KLH, 2018). Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah, serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Mentan RI, 2011)
Pembuatan sampah organik menjadi kompos sangat penting diajarkan sejak dini.

Hal ini bertujuan untuk membiasakan dan mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah khususnya sampah organik. Selama ini sampah organik dibuang ke lingkungan tanpa dilakukan pemanfaatan. Penyuluhan dan pelatihan tentang pembuatan komposter dan kompos sangat penting untuk membuka wawasan dan memberikan keterampilan kepada siswa untuk memanfaatkan limbah organik.
Untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMP Negeri 3 Kawangkoan dan SMP Negeri 3 Tompaso tentang permasalahan sampah maka dilakukan penyuluhan.

Gambar 1: Suasana penyuluhan tentang pengolahan sampah di SMP Negeri 3 Kawangkoan.

Penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah dengan memanfaatkan teknologi berupa proyektor untuk menampilkan materi penyuluhan. Dalam materi penyuluhan siswa SMP Negeri 3 Kawangkoan dan SMP Negeri 3 Tompaso, diberikan gambaran tentang klasifikasi sampah, sifat-sifat sampah, efek negative sampah terhadap lingkungan dan kesehatan serta bagaimana cara mengelolah sampah yang baik.
Sebelum memberikan materi penyuluhan, para peserta ditanya tentang pengertian dan jenis sampah organik. Sebagian besar diantara mereka tidak mengerti tentang sampah organik.

Saat ditanyakan tentang pembuatan sampah organik untuk dijadikan kompos, para peserta juga sebagian besar tidak mengetahui. Setelah itu dijelaskan pengertian, jenis dan pemanfaatan sampah organik menjadi kompos.

Kebiasaan siswa peserta penyuluhan dalam pemanfaatn sampah organik yaitu: di sekolah , rumput dan dan dedaunan biasanya dibakar atau dibuang ke kebun samping sekolah. Sedangkan untuk sampah organik yang dihasilkan di rumah masing-masing biasanya dibuang ke belakang rumah atau diberikan ke ternak.

Gambar 2: Suasana Penyuluhan Tentang Pengolahan Sampah di SMP Negeri 3 Tompaso
Pembuatan Komposter dan Kompos

Komposter merupakan wadah yang digunakan untuk menyimpan sampah organik menjadi kompos. Para peserta diajarkan cara pembuatan komposter. Pada kegiatan ini, peserta dari SMPN 3 Kawangkoan dan SMP N 3 Tompaso diwakili oleh kelas siswa kelas VIII dan IX.

Untuk mempermudah siswa maka alat peraga komposter diperagakan ke peserta cara pembuatan dan cara menggunakannya.
Untuk mempermudah peserta pelatihan dalam memahami cara pembuatan komposter dan kompos, maka ditampilkan juga tutorial secara audio. Penggabungan kedua metode ini sangat efektif dalam pelatihan tersebut.

Setelah selesai menonton tutorial pembuatan komposter dan kompos, maka para peserta diajak untuk berpartisipasi dalam merangkai komposter yang sudah dibuat sebelumnya.

Setelah rangakian komposter sudah selesai maka dilanjutkan dengan cara menggunakan komposter.
Sebelum peserta memasukkan bahan organik ke dalam komposter, terlebih dahulu peserta pelatihan diajak untuk lebih mengenali bahan sampah organik yang ada di sekitarnya. Pengenalan sampah organik ini dilakukan dalam bentuk permainan.

Apabila salah seorang siswa menyebutkan contoh sampah organik yang benar, maka siswa yang ada di sampingnya bertuga untuk berlari mengambil sampah organik yang dimaksud. Misalnya, siswa tersebut menyebutkan daun kering, maka siswa di sampingnya akan berlari mengambil daun kering ada di sekitar sekolah mereka.

Permainan ini akan dianggap selesai jika tidak ada lagi contoh sampah organik yang berada di sekotar sekolah mereka.
Sampah organik yang tekumpul kemudian dicacah menjadi potongan-potongan kecil. Hal ini bertujuan supaya sampah tersebut mudah terurai menjadi kompos. Siswa diajak untuk mencacah sendiri dan membuat larutan bioaktifator dengan menggunakan EM4 (Effective Microorganime 4).


Setiap 500 ml air dicampurkan dengan 2 takaran tutup botol EM4. Fungsi EM4 yaitu mempercepat pembusukan bahan organik yang dimasukkan ke dalam komposter.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed