oleh

Wartawan Dilarang Meliput Masalah Penebangan Pohon Mangrove Endemik di Sarawet

Minut—Penebangan pohon mangrove di desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur (Liktim), yang rencananya akan dijadikan tambak udang oleh pihak PT Anugerah Bumi Sempuh Mandiri (ABSM), menuai sorotan masyarakat setempat.

Plt Hukumtua Desa Serawet, Kuala Batu dan Rasaan (SAKURA), Octavianus Maramis dan beberapa perangkat desa serta wartawan, memergoki ada beberapa lelaki sedang memotong bahkan membakar tanaman Mangrove di tepian pantai Desa Sarawet.

Tidak mengenal oknum-oknum itu, Maramis pun mempertanyakan keberadaan dan kompetensi mereka sehingga bekerja di lahan yang disinyalir sebagai Tambak Udang milik PT ABSM yang diduga sudah beralih ke pihak lain.

“Kami hanya pekerja yang digaji oleh PT Anugerah Bumi Sempu Mandiri (ABSM),” aku salah satu pekerja.

Padahal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menekankan kelestarian ekosistem mangrove penting dilakukan lantaran berdampak positif terhadap lingkungan. Apalagi pihak perusahaan sebelumnya tidak pernah melakukan sosialisasi dengan masyarakat.

Saat ini perusahaan tersebut hanya menggunakan Hak Guna Usaha (HGU) sedangkan ijin-ijin lainnya belum ada.

Lebih parah lagi, pihak perusahaan melalui Direktur Utama perusahaan Franky Padang Bastian terkesan melarang wartawan untuk mencari informasi, bahkan melecehkan profesi wartawan. Padahal, profesi wartawan bukan illegal, bukan pula tanpa aturan, tetapi diakui secara hukum dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan dimuliakan dalam Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman prilaku wartawan dalam menjalankan tugas.

Dalam perbincangan via telepon dengan salah satu wartawan nasional yang ingin mengkonfirmasi perihal permasalahan hutan mangrove, Rabu (24/7/2019), Frangky mengatakan, kalau wartawan tidak ada kerjaan, juga terdapat kata-kata tidak menyenangkan.” Jangan datang ke tanah saya, kalau datang akan saya usir, setan kamu, kamu tidak punya kerjaan mau cari-cari berita, orang tidak guna kamu itu, kata Frangky.

Perkataan Dirut PT ABSM ini sangat di sayangkan, karena Wartawan berhak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Profesi wartawan barangkali masih dianggap pengganggu, pencemar nama baik, pencari kesalahan orang, memeras untuk mendapat keuntungan pribadi yang kesemuanya itu “bernada” negatif dan tidak profesional. Padahal tugas wartawan sangat mulia (Pasal 3 dan 6 Undang-Undang Pers), mencerdaskan masyarakat melalui penyampaian informasi atau berita melalui media, mempopulerkan sesuatu/seseorang yang selama ini belum dikenal, menguak fakta dan realita yang tersembunyi, terus menerus mereka lakukan. (Ipang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed