oleh

Limanusa Gandeng Ormas Adat Dialog Konflik Sosial

MANADO–Sulawesi Utara (Sulut) dikenal dan menjadi barometer kerukunan masyarakat beragama. Sehingga itu demi mempertahankan modal itu Lingkar Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (Limanusa) menggelar forum ‘baku dapa ormas adat se Sulawesi Utara’, Senin (25/11) disalah satu hotel dibilangan jalan Jenderal Sudirman Manado. Dialog tersebut mengangkat tema Peran Strategis Ormas Adat Dalam Meminimalisir Konflik Sosial di Sulut.

Akademisi IAIN Manado Rahman Mantu mengatakan, kondisi hari ini pasca reformasi atas nama demokrasi organisasi mendapat kebebasan. Termasuk organisasi keislaman. Namun, kata dia disisi lain sangat disayangkan, karena banyak yang memanfaatkan untuk hal-hal negatife dalam berdemokrasi. Menurutnya, strategi yang diperlukan oleh ormas-ormas Islam yang garis keras Islamic populasi.

“2 tahun belakang di Sulut agak mengkhawatirkan. Karena adanya kelompok-kelompok Islam Transnasional. Selain agama Yahudi, ada juga agama bahai dan sekarang ada 2 keluarga di Tondano menjadi pengikut aliran ini. Uniknya di Sulut, dapat diukur dari keberagaman yang ada agama, suku, ras). Potensi radikalisme juga masih kuat arus informasi yang didapatkan dari internet, sosmed, bias berpengaruh terhadap pembentukan opini yang ada pada anak muda. Ketahanan pada kesatuan negara Indonesia ada pada kelompok kelompok civil society. 4 tahun terakhir keberagaman takut toleransi di manado menurun,”urainya.

Sementara itu, pembicara lainnya Decky T menuturkan, sebelum Indonesia merdeka ormas-ormas kepemudaan sudah ada dan ormas-ormas tersebutlah yang turut andil dalam memerdekakan NKRI.
UU NO 13 tahun 2017
Ormas adat mulai berdiri berawal dari satu kelompok yang termajinalkan (suku tertinggal/ masyarakat pedalaman). Pendirian awal, karena adanya konflik vertical antara masyarakat dan pemerintah
Ormas adat adalah sekumpulan orang yang merasa terpanggil untuk menjaga tradisi dan budaya yang ada.

“Kegamangan ormas adat saat ini ialah konflik horizontal konflik mafia tanah dan isu-isu radikalisme di internet dan sosmed.
Bentuk konflik vertical ormas adat dan pemerintah proyek jalan tol,”tandasnya.

Kordinator Limanusa Fino Mongkau mengatakan, kegiatan ini diprakarsai bersama teman-teman organisasi kepemudaan dan dimana Limanusa sendiri menjadi fasilitator dan mengundang sejumlah elemen ormas adat agar dapat bersama-sama mendiskusikan isu-isu terkini terkait penanganan konflik sosial. “Kami selaku penyelenggaran mengucapkan terima kasih kepada para teman-teman ormas yang bersedia menghadiri kegiatan ini. Tentunya dialog ini menjadi harapan dan cita-cita bersama seluruh komponen ormas di Sulut,”tandas Mongkau.

Diketahui dialog tersebut dihadiri sejumlah ormas diantaranya Brigade Manguni, Patriot Manguni dan sejumlah organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Tak hanya itu, dialog juga menghasilkan beberapa poin rekomendasi yakni sebagai berikut :

1. Ormas Adat Sulawesi Utara berkomitmen menjaga dan mengawal Sulawesi Utara yang aman dan damai.
2. Ormas Adat Sulawesi Utara menghimbau kepada seluruh masyarakat Sulut untuk tidak mengikuti acara perayaan aksi 212 dimanapun tempat pelaksanaannya.
3. Ormas Adat Sulawesi Utara siap berkomunikasi dengan pemerintah daerah untuk meminimalisir konflik sosial di Bumi Nyiur Melambai ini.

(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed